Atlet Bulutangkis Denmark Kritik Suporter Indonesia

Supporter Indonesia

Ajang badminton BCA Indonesia Open 2017 sudah berlalu digelar. Selamat untuk pasangan ganda campuran tumpuan kita, Liliana Natsir dan Tantowi Ahmad yang sukses membawa satu-satunya gelar kemenangan guna Tim Indonesia setelah mengungguli pasangan Cina dua set sekaligus. Tapiterdapat sedikit kisah kurang mengasyikkan nih dari datang dari pasangan ganda putra Denmark, Mathias Boe dan Carsten Mogensen.

Sebelum isu ini meledak, Mathias Boe memang dirasakan melakukan selebrasi yang ‘lebay’ dan laksana melecehkan suporter Indonesia. Boe mengerjakan sedikit tarian aneh, dan meletakan tangan di mulut seolah mengajak suporter Indonesia guna diam. Terkait urusan ini, Boe telah mengklarifikasi bahwa dia tidak berniat mengerjakan sesuatu yang sifatnya provokasi.

Namun dalam video konferensi pers yang diluncurkan oleh Agen Sbobet Resmi Terpercaya di atas,tampak bahwa atlet Denmark ini paling kecewa atas perbuatan suporter Indonesia. Kedua pemain Denmark itu mendapat desakan dan intimidasi dari suporter Indonesia. Mulai dari diteriaki-teriaki secara tidak layak sepanjang pertandingan laksana “Go Home Denmark, Go Home“, hingga mendapatkan ancaman pembunuhan melewati media sosial.

Bulutangkis
Bulutangkis

Seperti kata Boe, kemarahan suporter sebab kekalahan tersebut adalah hal yang tidak jarang terjadi dalam suatu pertandingan. Tapi saat sampaiterdapat pihak yang merasa dirugikan dan bahkan terancam laksana ini, sepertinya saya dan anda butuh bercermin lagi deh. Mungkin memangterdapat yang perlu dirapikan dari kultur suporter kita.

Polemik suporter Indonesia bukanlah urusan yang baru. Tak jarang kerusuhan di bangku suporter hingga harus menghilangkan nyawa

Dipicu oleh emosi dan rasa kecewa, tak jarang hal-hal negatif terjadi dari luar lapangan. Entah tersebut melempar botol dan petasan ke lapangan, melempari bus atau kereta api dengan batu, atau saling adu jotos di luar stadiun sudah tidak jarang kita dengar. Di kancah lokal, anda mengenal rivalitas Viking (Persib Bandung), Jakmania (Persija Jakarta), Aremania (Malang), dan dan Bonek (Persebaya) sebagai suporter garis keraskesebelasan sepak bola. Tahun 2015, dua orang tewas dalam ribut suporter Bonek dan Aremania di Sragen. Lalu di tahun 2014 terjadi kerusuhan di dalam pertandingan antara Persis Solo vs Martapura FC, yang menyebabkan satu orang tewas.

Di lapangan, bola bergulir dengan aman, di luar lapangan belum tentu.

Satu sisi, kekompakan dan totalitas sokongan suporter Indonesia memang pantas dipuji. Tapi betapa baiknya bila tak me sti mengintimidasi ataumenakut-nakuti lawan

Memang kekompakan suporter kita pantas dipuji. Totalitas dukungannya pun harus dihargai. Semangat yang diantarkan dari bangku suporter memangdapat membuat sang atlet semakin terpacu untuk membawa pulang kemenangan. Bahkan tidak sedikit dari atlet luar negeri yang pun pernah memuji alangkah semangatnya suporter Indonesia.

Jika format dukungan tersebut berupa lagu atau yel kompak mengandung pesan semangat, ya tidak masalah. Tapi saat teriakan-teriakan tersebut berubah liriknya menjadi serangan personal maupun hujatan untuk lawan,tersebut sepertinya telah ‘menodai’ jiwa sportif yang diangkat pertandingan olahraga. Alangkah baiknya bila dukungan diserahkan tanpame sti merusak atau meluapkan kemarahan ketika menerima kekalahan.

Kalah menang dalam pertandingan pasti hal biasa. Tapi sikap suporter yang “ugal-ugalan” ini malah merusak sportivitas olahraga dan mencoret nama baik negara

Suporter yang rusuh tidak melulu ada di Indonesia. Di luar negeri, kerusuhan antar suporter juga sejumlah kali terjadi. Sungguh disayangkan sebab seharusnya dalam sepak bola, sportivitas ialah hal yang me stidijaga. Tak melulu itu, persaingan seperti Piala Dunia, Indonesia Open, dan beda sebagainya juga diciptakan untuk merekatkan hubungan antar negara-negara. Suporter yang ugal-ugalan pasti akan merusak destinasi yang sebenarnya paling positif ini.

Dampaknya tentu tidak saja terjadi pada semua suporter yang ugal-ugalan. Tapi dapat juga untuk tim yang dikenai sanksi, dan untuk bangsa yang tercoret nama baiknya.

Disamping tersebut ucapan Mathias Boe terdapat benarnya. Ancaman pembunuhan pasti hal yang paling serius tapi justeru sering anda lempar begitu saja di media sosial

Suporter Indonesia
Suporter Indonesia

Wajar bila Boe menjadi marah dan merah padam. Sebab dalam konteks apapun, lisan maupun tulisan, secara langsung atau di dunia maya, ancaman pembunuhan jelas bukan urusan yang dapat dianggap sepele. Apalagi melulu ditertawakan sebagai bahan bercandaan dan tidak dirasakan serius. Dalam pers konferensi tersebut, Boe mengatakan tersebut sebuah urusan yang mengherankan ketika orang-orang Indonesia dapat tertawa mendengar dirinya mendapat ancaman pembunuhan dan serangan personal di media sosial. Karena menurutnya, di negara asalnya Denmark, tersebut pelanggaran serius.

Ada benarnya pun sih, terkadang memperhatikan postingan di media sosialdapat sangat memprihatinkan. Remaja saling lempar komentar yang sarat dengan ucapan-ucapan kasar. Makian dilontarkan tanpa keraguan. Mungkinterdapat yang beranggapan “namanya main medsos ya memang begitu risikonya”. Media sosial ialah ruang tanpa batas lokasi bertemunya orang dengan segala latar belakang. Tapi apa ini kemudian menjadi dalil untuk melupakan tata krama?

Yang namanya pertandingan pasti ada yang menang dan terdapat yang kalah. Apalagi di sebuah persaingan yang me stinya menjadi penyambung hubungan baik antar negara. Menjadi penyokong yang loyal, tak har us me stimenyakiti atau mengintimidasi kesebelasan lawan. Karena pasti sangatmengasyikkan bila olahraga dapat berjalan dan selesai dengan damai tanpa huru-hara. Sayang ‘kan bila predikat bangsa yang ramah ini pulang menjadi bangsa yang pemarah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *