Petualangan ke Goa Suko, Sumatera Barat

Minggu kedua penugasan sudah selesai, sebelum pulang ke Padang, gue dan Arief hendak mencoba mendatangi tujuan lainnya di Dharmasraya. Bang Ucok yang kali ini menyuruh kami mengarah ke sebuah goa mempunyai nama goa suko. Bang Ucok ini nama aslinya Arkan, gabungan Batak-Minang, namun orang-orang lebih suka memanggilnya Ucok

 

Kami berkendara sekitar 10 menit dari pusat kota hingga berhenti disuatu bukit kecil. Mobil diparkirkan, dan perjalanan dilanjutkan denganberlangsung kaki sekitar 10 menit. Sepanjang perjalanan, minimal kami disambut 3 jenis fauna liar. Seekor ular kecil, gerombolan monyet, dan seekor burung gagak yang terbang rendah. Sesampainya di lokasi goa, ada 4 orang anak remaja yang sedang mandi di sungai suko.

 

Berdasarkan dari artikel yang gue baca dari https://betwin188.online/ Goa Suko ini unik. Dari mulut goanya mengalir sungai suko dengan aliran kecil. Warna airnya putih susu, bertolak belakang dengan banyak sekali sungai yang sedang di Pulau Punjung yang berwarna coklat. Sungai itudiisi bebatuan sampai-sampai menjadikannya menarik dan instagram-able.

 

“Waktu tersebut enggak gini lho, waktu tersebut mulut goanya terbuka, airnya lebih deras. Kita bila mandi-mandi di sungainya dapat langsung masuk ke goanya”, ucap Bang Ucok. Sedangkan yang tampak sekarang, debit air kecil dan pintu goa tertutup reruntuhan batu. Mungkin berakhir ada longsor.

 

Gue langsung mendaki batu-batu tersebut dan mengarah ke mulut goa. Goanya kecil dan gelap. Gue masuk hanya sejumlah meter saja. Kami kesini tanpa persiapan, gak bawa senter untuk mencari lebih jauh lagi. Gueterbit goa dan memotret situasi di sekeliling saja.

 

Tiba-tiba 4 anak remaja tadi menghampiri dan hendak mewawancarai gue,guna tugas sekolah katanya. Mereka masih duduk di ruang belajar 1 Smk. Oke deh, gue juga menjawab sejumlah pertanyaan seraya direkam. Hitung-hitung, pelajaran ngomong bikin vlog gue nanti ahaha.. Setelah selesai, gue juga meminta foto-foto mereka. “Entar bila mau lihat foto-fotonya, buka blog abang ya,, sini abang tulisin dulu nama blog abang di hp di antara dari kalian”, ucap gue sekaligus promosi blog.

 

Mereka pamit kembali ke wilayah Siguntur dan gue melanjutkan foto-foto. Sementara Arief dan Bang Ucok ngobrol santai di pinggir sungai sambilmerasakan cemilan yang kami bawa.

 

Ada sepasang muda mudi yang sedang santap siang di sisi beda sungai ini. Gue tanya apakah dia pernah masuk goa suko ini. Dia juga bercerita panjang lebar.

“Saya pernah bang masuk ke dalam bang, mesti bawa senter. Makin dalamkian sempit. Mungkin panjang goanya selama 100 meter lah dari mulut goa hingga mentok. Di dalam tu buntu bang. Mata air sungai ini di ujung goa itu. Sempat ramai sih masa-masa itu, tidak sedikit yang ke sini, tidak sedikit yang pacaran pun di dalam goa. Eh, “penunggu” nya keluar,terdapat yang lihat, terus terdapat 3 orang kesurupan. Nah abis kejadian itu, jadi sepi lagi lokasi ini”..

 

Langsung merinding gue dengar kisah dia. Duh, mana belum sempat foto-foto di dalam goa lagi. Sekarang gue ciut kan kan. Gue pun melulu memotret mulut goa nya saja. Udah gak berani lagi masuk-masuk bila sepi gini..

 

Di hutan ini pun ada ngalau (goa) beda yang lebih besar. Sebuah ngalau yang menjadi sarang burung walet. Kata Bang Ucok, panen sarang wallet dilaksanakan setiap 4 bulan sekali dan sebelum memanen mesti terdapat persembahan 1 ekor kambing. Bila ritual tersebut tak dilakukan, tentu memakan 1 korban jiwa. Untuk mengarah ke ngalau tersebut juga perlu perjuangan trekking selama 2-3 jam. Dan setelah terbit dari ngalau, tubuh bakal terasa perih-perih..

 

Makin ngeri aja denger kisah itu, kesudahannya kami juga meninggalkanlokasi ini seiring dengan semakin banyaknya bentol-bentol merah dampak gigitan nyamuk..

 

Pesona Pulau Dewata Yang Tak Akan Ada Habisya

Dikutip https://betwin188.org/ Bali mungkin ialah tempat sangat didambakan guna dikunjungi oleh mayoritas masyarakat Indonesia, atau bahkan dunia. Bicara mengenai alamnya, Bali menawarkan tidak sedikit keindahan, khususnya akan ombak besar dan pantainya, yang adalah surga untuk para penyuka pantai dan selancar. Bicara mengenai budayanya, pasti Bali pun sangat kaya bakal budaya, yang paling melekat dalam kehidupan masyarakatnya. Budaya yangpaling khas, yang sangat bertolak belakang dengan wilayah lain di Indonesia. Bicara mengenai gadisnya, beuuh tidak boleh ditanya, wanita Bali selalu unik 🙂 ..

Sampai usia 28, 2 kali telah gue menjejakkan kaki di pulau dewata. Yang kesatu ketika gue masih ruang belajar 3 SMA. Biasa coy, study tour sekolah, :D. .. Kedatangan kedua bareng dengan Ayu 4 tahun silam..

 

Kunjungan kesatu

Walaupun saat tersebut waktu trafik ke sekian banyak  tempat di Balipaling dibatasi, namun lumayan memberikan kesan mendalam bakal indahnya pulau dewata ini. Bedugul, pantai kuta, peragaan tari-tarian, pasar sukowati, nusa dua, tanah lot, dan sangeh ialah beberapa yang gue ingat dari trafik kesatu gue.

Tapi yang sangat memorable dari study tour ini ialah kisah-kisah horor yang dirasakan teman-teman gue sekitar di Bali dan di perjalanan pulang, salah satunya saat Septri teriak-teriak ketakutan sebab sepanjang jalan melihat tidak sedikit penampakan. Dari pengakuannya, doi punya indra keenam.. Lah kok jadi kisah horor yaaa?? Skip skip :V :V ..

 

Kunjungan kedua

Oktober 2013, gue bertolak mengarah ke Bali dari Kupang, sementara Ayu dari Mamuju. Kami berdua menghadiri undangan nikahan Blidek dan Mbok Diah. Moment ini pun gue manfaatkan sekaligus photoshoot prewedding sebab 2 bulan lantas gue dan Ayu bakal menyusul mereka. Ya gini lah nasib orang LDR, bila mau ketemu, lebih baik bila dibarengin pekerjaan lain, 😀 ..

Gue nginep di jalan Poppies Lane. Letaknya strategis sebab berada salah satu Kuta dan Legian. Mau sebatas nikmatin pantai, atau surfing, dan clubbing, seluruh dekat dari sini.. Di wilayah sini tidak sedikit banget penginapan mulai dari yang murah meriah ruang belajar backpacker sampe hotel mahal. Ke Beachwalk shopping center juga lumayan jalan kaki. Di kanan kiri jalan tidak sedikit terdapat semua penjual souvenir khas Bali. Jalanan memang kecil, namun suasananya paling rame. Gak usahcemas soal makanan sebab disini pun bejibun kedai makanan, mulai dari yang halal hingga haram 😀 … Mau nyari rental mobil atau motor pun banyak… Pokoknya wilayah ini all in one deh..

Untuk transportasi sekitar di Bali, gue sewa motor dengan tarif yang ditawarkan 50k / hari ( 2013). Kebetulan di lokasi gue menginap pun sekaligus lokasi penyewaan motor. Setelah nego, harga perharinya jadi 40k. Helm udah disediain 2, yaaa walaupun kondisinya menyedihkan 🙁 .. Tinggal isi bensin, cus kemana aja…

Riding di Bali paling menyenangkan, jalannya bagus dan mulus, sangatbertolak belakang dibandingkan situasi jalan di mayoritas Sumatera. Perjalanan enggak pernah menjemukan di Bali. Terlebih, nyaris semualokasi hits udah bisa terlacak via google maps.. Selama sejumlah hari di Bali, kemana-kemana gue tidak jarang kali mengandalkan Gmaps dantidak jarang kali sampai.

Selepas kondangan ke Blidek, gue gabung sama temen-temen bikin jalan ke Nusa Dua, ya sebatas untuk santai, duduk-duduk, dan berfoto..

Keesokan harinya, dengan mengemudikan sepeda motor,, gue dan Ayu mulai menyusuri eksotisme Bali bermodal GPS.. Pantai Blue Point dan Garuda Wisnu Kencana (GWK) menjadi destinasi kesatu kami. Dilanjutkan ketemu Aizhar buat potret prewedding di Tanah Lot, Hutan Mangrove, dan Pantai Dreamland.

 

Pantai Blue Point

Bagi semua peselancar, pantai ini adalahsalah satu surga di Bali, ombaknya besar dan menantang. Untuk yang tidak suka selancar, pantai ini tetap menarik sebab keindahannya.

Meskipun hanya dapat melihat semua surfer mengendalikan papan selancanrnya sambil

menyeimbangkan badannya dan meliuk-liuk menghindari hantaman ombak. Ah,, pengen banget dapat selancar, tapiiiii ,, fobia :V :V …

It’s oke lah, keindahan pantainya masih dapat dinikmati. Sayang matahari mulai bergerak ke atas kepala sampai-sampai pantai tak lagi dapat menunjukkan keindahan maksimalnya..

Terdapat tebing karang yang besar yang sela-selanya menjadi semacam goa.. Dari titik inilah semua peselancar mulai menggali spot ombak terbaik. Di sini pun para wisatawan berdecak kagum bakal keindahannya. Segera lah kesini ketika air surut…

Fasilitas penyokong di sini lumayan menyeluruh juga. Banyak warung makanan dan minuman, lokasi sewa perangkat surfing, dan jasa potret untuk mengabadikan momen kalian dalam berselancar..

 

Garuda Wisnu Kencana

GWK ialah sebuah taman kebiasaan yang mengindikasikan identitas Bali sebagai pulau dewata. GWK bertempat di Ungasan, Kabupaten Badung. Terdapat 2 patung berukuran raksasa yakni patung Dewa Wisnu dan Garuda. Patung itu rencananya akan dibulatkan dan mempunyai tinggi 123 meter dengan sayap garuda sepanjang 64 meter. Saat ini, tinggi patung Dewa Wisnu baru 23 meter dan sang Garuda belum mempunyai sayap.