Mengeksplore Sejarah Kerajaan Surambi Sungai Pagu, Solok Selatan

wisata sumatera barat

Dikutip https://betwin188.website/daftar  Kerajaan Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, ranah minang pun mempunyai kerajaan beda yang lebih kecil. Salah satunya ialah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu di Kabupaten Solok Selatan. Uniknya, Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu mempunyai 4 orang raja yang familiar dengan istilah Rajo Nan Barampek (Raja yang berempat). Raja-raja itu mempunyai peranan bertolak belakang dan istana sendiri-sendiri.

Rajo Nan Barampek itu yaitu:

– Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar (Rajo Daulat/Rajo Alam),

– Tuanku Rajo Bagindo (Rajo Adat, mengurusi masalah adat, tambo, dan ekonomi)

– Tuanku Rajo Malenggang (mengurusi masalah pajak)

– Tuanku Rajo Batuah (mengurusi masalah agama dan pertambangan)

 

Kerajaan Surambi Alam Sungai Pagu memang telah tak lagi eksis, tetapi jejak peninggalan sejarahnya masih dapat anda jumpai ketika ini. Beberapa diantaranya yang gue datangi bersama kawan-kawan blogger palantaialah Istano Rajo Balun, Istano Rajo Alam , Masjid Kurang Aso 60, dan Rumah Gadang Inyiak Majo Lelo. Yuk kita kupas satu-satu.

 

Istano Rajo Balun

 

Istano Rajo Balun terletak di pinggir jalan besar sebelum Koto Baru. Kami datang ke sini di hari kesatu kedatangan ke Solok Selatan sebelum menujuarea saribu lokasi tinggal gadang. Ibu Puti Ros Dewi atau biasa dipanggil Bundo menyambut kami dengan hangat. Beliau mempersilakan kami masuk ke dalam lokasi tinggal gadang.

 

Bundo mengisahkan asal muasal kedatangan orang-orang minang ke distrik yang sekarang disebut Solok Selatan dan bagaimana Kerajaan Surambi Alam Sungai Pagu terbentuk. Bundo pun bercerita bahwa istana ini pernahdihanguskan VOC dan meluluhlantakkan nyaris semua yang terdapat di dalamnya, tergolong senjata. Hanya tidak banyak yang tersisa.

Beberapa peninggalan yang masih tersisa dipajang di dalam istana, termasuksejumlah naskah kuno. Foto-foto raja dan keturunannya tak lupa pun ditempel di dinding istana.

Di belakang istana ada dua buah bukit. Bukit yang kecil dulunya dijadikanlokasi untuk melangsungkan pesta rakyat saat ada raja yang meninggal. Bukit yang besar konon dipertahankan oleh 3 ekor harimau sumatera,, serem ya guys

 

Istano Rajo Daulat

 

2 hari kemudian, seiring dengan kepulangan kami ke Kota Padang, kami menyempatkan mendatangi Istano Rajo Daulat, Masjid Kurang Aso 60, Rumah Gadang Inyiak Majo Lelo.

 

Istano Rajo Daulat terletak tak begitu jauh dari Istano Rajo Balun,tetapi untuk menuju tempat kita mesti membelokkan kendaraan ke jalan kecil.

Kami disambut hangat oleh seorang perempuan keturunan raja, kami memanggilnya Uni. Uni juga bercerita tentang asal usul Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu dan keunikan-keunikan yang terdapat di istana.

Raja Daulat memiliki sepasang gelang emas yang berukuran besar. Gelang tersebut paling berat, sampai-sampai harus diikatkan ke leher ketika dipakai. Gelang tersebut digunakan saat penobatan sang raja. Konon, asal muasal gelang tersebut berawal saat masyarakat kerajaan sedang memanen padi. Mereka lalu mengejar emas dari padi, entah di batang padi atau di biji padinya. Emas itu mereka serahkan untuk raja yang akhirnya disusun menjadi gelang. Benda tersebut kini ada di di antara turunan raja di Jakarta. Tetapi bila mau menyaksikan duplikatnya dapat berangjangsana ke museum Adityawarman di Padang. Di samping itu, ada benda bersejarah lainnya yaitu gong kehormatan yang dibunyikan ketika penobatan raja. Uniknya, gong itu akan berbunyi sendiri bilamana ada sesuatu yang terjadi di istana. Di samping gong yang berbunyi sendiri, terkadangterdapat tetesan-tetesan darah ketika sesuatu yang buruk terjadi. Hal menarik lainnya ialah adanya sepasang buaya putih yang bakal datang ke sungai batanghari yang sedang di belakang istana ketika ada penobatan raja. Terkesan angker ya..

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *