Menikmati Pagi di Kebun Teh Liki, Kaki Gunung Kerinci

Dikutip https://pokertiam.co/situs-poker-online-terpopuler/ Kebun Teh Liki terhampar di sepanjang jalan sebelum menginjak Kota Padang Aro, ibukota Kabupaten Solok Selatan. Warna hijaunya menyejukkan mata. Keindahannya dilengkapi oleh latar yang megah, dimulai dengan perbukitan taman nasional kerinci seblat yang memanjang, dan diselesaikan dengan gunung kerinci yang menjulang tinggi dengan angkuhnya. Gunung Kerinci terlihat paling cantik, seolah melambai-lambaikan tangan untuk setiap penakluk alam guna mendekati dan mendakinya.

Tentang Kebun Teh Liki

Kebun teh liki yang berdiri semenjak 1990 ketika ini semua sahamnya dipunyai oleh PT. Mitra Kerinci. Perkebunan ini sedang di atas tanah seluas 2.205 ha di kaki gunung kerinci. Di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, kebun teh liki adalah produsen teh hijau terbesar. Produk utamanya ialah teh hijau dan teh hitam yang di samping untuk mengisi permintaan pasar dalam negeri, pun diekspor ke Eropa. Di samping itu, perkebunan teh ini pun menghasilkan produk teh spesial laksana teh putih, red sinensis dan green sinensis yang kualitasnya di atas teh hijau maupun teh hitam.

Di situsnya, PT Mitra Kerinci mengaku bahwa nyaris 85% teh yang dikonsumsi di Indonesia berasal dari kebun teh liki. Padahal tahu sendiri kan ada tidak sedikit kebun teh di Indonesia, dan yang sangat terkenalpasti kebun teh puncak Bogor. Jadi dapat kalian bayangkan alangkah luasnya lokasi kebun teh liki ini, dan betapa tidak sedikit hasilbuatan tehnya

Awalnya, meminum teh putih langsung di sekitar sumbernya pun menjadi di antara list di itinerary kami. Tapi sebab satu dan beda hal, peluang tersebut hilang. Hufff.. Semoga bakal datang lagi peluang di beda waktu. Padahal pengen banget ngerasain teh putih, sebab selama ini belum pernah. FYI, teh putih ini adalahsalah satu varietas teh termahal di dunia.

 

The Journey

Panas matahari belum sepenuhnya hingga ke permukaan bumi ketika kami bergegas meninggalkan area saribu lokasi tinggal gadang di Muara Labuh mengarah ke Padang Aro, lokasi di mana kebun teh liki berada. Kamihingga di kebun teh liki selama pukul 8 wib, sesudah sebelumnya mendatangi Puncak Pinang Awan dan Waterboom Solok Selatan yang hanyasejumlah kilometer jauhnya dari kebun teh liki.

 

Titi, yang pagi tersebut kondisi tubuhnya tidak cukup fit, segera turun dari mobil dan menggali tempat guna memuntahkan “jackpotnya” :D.. Jalanan yang berkelok-kelok memang lumayan membuat perut mual, terlebihuntuk yang gampang mabuk perjalanan dan situasi badan tidak cukup fit. Awalnya kami kira Nanda akan merasakan hal serupa dengan Titi, sebab dia juga mudah mabuk perjalanan. Namun hari tersebut ternyata kemampuannya menaklukan rasa mual sedang bertambah

 

Sembari menantikan Uda Nofrins dang Bang Firza yang masih dalam perjalanan, kami sedikit mengembara masuk ke lokasi perkebunan. Bukan lagi jalan aspal, tetapi berganti menjadi jalan tanah berkerikil.

Sekarang di kedua sisi kami ialah kebun teh. hamparannya luas dan tidak banyak bergelombang. Hamparan satu dengan lainnya diceraikan oleh pohon-pohon yang berjejer. Hamparan kebun teh selesai jauh di kaki perbukitan taman nasional kerinci seblat, lokasi di mana hewan-hewan binal masih berkeliaran, laksana harimau sumatera contohnya.

 

Kami pulang ke pinggir jalan besar tatkala Uda Nofrins memberi tahu bahwa beliau telah sampai di kebun teh liki. Kedai makanan di pinggir jalan menjadi lokasi kami berkumpul pagi itu. Dalam udara pagi yang dingin dengan sedikit penyampaian hangat sinar mentari, kami bercerita tidak sedikit hal mengenai pariwisata Solsel yang ketika ini sedang mulai dipromosikan lebih serius.

Awan putih semakin menggumpal tebal dan perlahan menutupi semua bagian gunung kerinci. Seiring berdetaknya waktu, hilang pula pemandangan gunung kerinci yang mempesona sekitar jam 9 wib. Kami juga berpisah dengan Uda Nofrins dan Bang Firza, dan melanjutkan perjalanan ke tujuan wisata berikutnya di Solok Selatan, Goa Batu Kapal.

Waktu sangat tepat datang ke sini ialah saat pagi hari, sebab gunung kerinci melulu menyukai pagi. Dia bakal tersenyum ramah di sela-selakeadaan pagi yang dingin, kemudian menghilang ditelan awan ketika sinar mentari sepenuhnya menyinari bumi.

 

Mengeksplore Sejarah Kerajaan Surambi Sungai Pagu, Solok Selatan

Dikutip https://betwin188.website/daftar  Kerajaan Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, ranah minang pun mempunyai kerajaan beda yang lebih kecil. Salah satunya ialah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu di Kabupaten Solok Selatan. Uniknya, Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu mempunyai 4 orang raja yang familiar dengan istilah Rajo Nan Barampek (Raja yang berempat). Raja-raja itu mempunyai peranan bertolak belakang dan istana sendiri-sendiri.

Rajo Nan Barampek itu yaitu:

– Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar (Rajo Daulat/Rajo Alam),

– Tuanku Rajo Bagindo (Rajo Adat, mengurusi masalah adat, tambo, dan ekonomi)

– Tuanku Rajo Malenggang (mengurusi masalah pajak)

– Tuanku Rajo Batuah (mengurusi masalah agama dan pertambangan)

 

Kerajaan Surambi Alam Sungai Pagu memang telah tak lagi eksis, tetapi jejak peninggalan sejarahnya masih dapat anda jumpai ketika ini. Beberapa diantaranya yang gue datangi bersama kawan-kawan blogger palantaialah Istano Rajo Balun, Istano Rajo Alam , Masjid Kurang Aso 60, dan Rumah Gadang Inyiak Majo Lelo. Yuk kita kupas satu-satu.

 

Istano Rajo Balun

 

Istano Rajo Balun terletak di pinggir jalan besar sebelum Koto Baru. Kami datang ke sini di hari kesatu kedatangan ke Solok Selatan sebelum menujuarea saribu lokasi tinggal gadang. Ibu Puti Ros Dewi atau biasa dipanggil Bundo menyambut kami dengan hangat. Beliau mempersilakan kami masuk ke dalam lokasi tinggal gadang.

 

Bundo mengisahkan asal muasal kedatangan orang-orang minang ke distrik yang sekarang disebut Solok Selatan dan bagaimana Kerajaan Surambi Alam Sungai Pagu terbentuk. Bundo pun bercerita bahwa istana ini pernahdihanguskan VOC dan meluluhlantakkan nyaris semua yang terdapat di dalamnya, tergolong senjata. Hanya tidak banyak yang tersisa.

Beberapa peninggalan yang masih tersisa dipajang di dalam istana, termasuksejumlah naskah kuno. Foto-foto raja dan keturunannya tak lupa pun ditempel di dinding istana.

Di belakang istana ada dua buah bukit. Bukit yang kecil dulunya dijadikanlokasi untuk melangsungkan pesta rakyat saat ada raja yang meninggal. Bukit yang besar konon dipertahankan oleh 3 ekor harimau sumatera,, serem ya guys

 

Istano Rajo Daulat

 

2 hari kemudian, seiring dengan kepulangan kami ke Kota Padang, kami menyempatkan mendatangi Istano Rajo Daulat, Masjid Kurang Aso 60, Rumah Gadang Inyiak Majo Lelo.

 

Istano Rajo Daulat terletak tak begitu jauh dari Istano Rajo Balun,tetapi untuk menuju tempat kita mesti membelokkan kendaraan ke jalan kecil.

Kami disambut hangat oleh seorang perempuan keturunan raja, kami memanggilnya Uni. Uni juga bercerita tentang asal usul Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu dan keunikan-keunikan yang terdapat di istana.

Raja Daulat memiliki sepasang gelang emas yang berukuran besar. Gelang tersebut paling berat, sampai-sampai harus diikatkan ke leher ketika dipakai. Gelang tersebut digunakan saat penobatan sang raja. Konon, asal muasal gelang tersebut berawal saat masyarakat kerajaan sedang memanen padi. Mereka lalu mengejar emas dari padi, entah di batang padi atau di biji padinya. Emas itu mereka serahkan untuk raja yang akhirnya disusun menjadi gelang. Benda tersebut kini ada di di antara turunan raja di Jakarta. Tetapi bila mau menyaksikan duplikatnya dapat berangjangsana ke museum Adityawarman di Padang. Di samping itu, ada benda bersejarah lainnya yaitu gong kehormatan yang dibunyikan ketika penobatan raja. Uniknya, gong itu akan berbunyi sendiri bilamana ada sesuatu yang terjadi di istana. Di samping gong yang berbunyi sendiri, terkadangterdapat tetesan-tetesan darah ketika sesuatu yang buruk terjadi. Hal menarik lainnya ialah adanya sepasang buaya putih yang bakal datang ke sungai batanghari yang sedang di belakang istana ketika ada penobatan raja. Terkesan angker ya..

 

Petualangan ke Goa Suko, Sumatera Barat

Minggu kedua penugasan sudah selesai, sebelum pulang ke Padang, gue dan Arief hendak mencoba mendatangi tujuan lainnya di Dharmasraya. Bang Ucok yang kali ini menyuruh kami mengarah ke sebuah goa mempunyai nama goa suko. Bang Ucok ini nama aslinya Arkan, gabungan Batak-Minang, namun orang-orang lebih suka memanggilnya Ucok

 

Kami berkendara sekitar 10 menit dari pusat kota hingga berhenti disuatu bukit kecil. Mobil diparkirkan, dan perjalanan dilanjutkan denganberlangsung kaki sekitar 10 menit. Sepanjang perjalanan, minimal kami disambut 3 jenis fauna liar. Seekor ular kecil, gerombolan monyet, dan seekor burung gagak yang terbang rendah. Sesampainya di lokasi goa, ada 4 orang anak remaja yang sedang mandi di sungai suko.

 

Berdasarkan dari artikel yang gue baca dari https://betwin188.online/ Goa Suko ini unik. Dari mulut goanya mengalir sungai suko dengan aliran kecil. Warna airnya putih susu, bertolak belakang dengan banyak sekali sungai yang sedang di Pulau Punjung yang berwarna coklat. Sungai itudiisi bebatuan sampai-sampai menjadikannya menarik dan instagram-able.

 

“Waktu tersebut enggak gini lho, waktu tersebut mulut goanya terbuka, airnya lebih deras. Kita bila mandi-mandi di sungainya dapat langsung masuk ke goanya”, ucap Bang Ucok. Sedangkan yang tampak sekarang, debit air kecil dan pintu goa tertutup reruntuhan batu. Mungkin berakhir ada longsor.

 

Gue langsung mendaki batu-batu tersebut dan mengarah ke mulut goa. Goanya kecil dan gelap. Gue masuk hanya sejumlah meter saja. Kami kesini tanpa persiapan, gak bawa senter untuk mencari lebih jauh lagi. Gueterbit goa dan memotret situasi di sekeliling saja.

 

Tiba-tiba 4 anak remaja tadi menghampiri dan hendak mewawancarai gue,guna tugas sekolah katanya. Mereka masih duduk di ruang belajar 1 Smk. Oke deh, gue juga menjawab sejumlah pertanyaan seraya direkam. Hitung-hitung, pelajaran ngomong bikin vlog gue nanti ahaha.. Setelah selesai, gue juga meminta foto-foto mereka. “Entar bila mau lihat foto-fotonya, buka blog abang ya,, sini abang tulisin dulu nama blog abang di hp di antara dari kalian”, ucap gue sekaligus promosi blog.

 

Mereka pamit kembali ke wilayah Siguntur dan gue melanjutkan foto-foto. Sementara Arief dan Bang Ucok ngobrol santai di pinggir sungai sambilmerasakan cemilan yang kami bawa.

 

Ada sepasang muda mudi yang sedang santap siang di sisi beda sungai ini. Gue tanya apakah dia pernah masuk goa suko ini. Dia juga bercerita panjang lebar.

“Saya pernah bang masuk ke dalam bang, mesti bawa senter. Makin dalamkian sempit. Mungkin panjang goanya selama 100 meter lah dari mulut goa hingga mentok. Di dalam tu buntu bang. Mata air sungai ini di ujung goa itu. Sempat ramai sih masa-masa itu, tidak sedikit yang ke sini, tidak sedikit yang pacaran pun di dalam goa. Eh, “penunggu” nya keluar,terdapat yang lihat, terus terdapat 3 orang kesurupan. Nah abis kejadian itu, jadi sepi lagi lokasi ini”..

 

Langsung merinding gue dengar kisah dia. Duh, mana belum sempat foto-foto di dalam goa lagi. Sekarang gue ciut kan kan. Gue pun melulu memotret mulut goa nya saja. Udah gak berani lagi masuk-masuk bila sepi gini..

 

Di hutan ini pun ada ngalau (goa) beda yang lebih besar. Sebuah ngalau yang menjadi sarang burung walet. Kata Bang Ucok, panen sarang wallet dilaksanakan setiap 4 bulan sekali dan sebelum memanen mesti terdapat persembahan 1 ekor kambing. Bila ritual tersebut tak dilakukan, tentu memakan 1 korban jiwa. Untuk mengarah ke ngalau tersebut juga perlu perjuangan trekking selama 2-3 jam. Dan setelah terbit dari ngalau, tubuh bakal terasa perih-perih..

 

Makin ngeri aja denger kisah itu, kesudahannya kami juga meninggalkanlokasi ini seiring dengan semakin banyaknya bentol-bentol merah dampak gigitan nyamuk..